Sebuah perjalanan mungkin jauh atau dekat,
namun perjalanan itu harus dimulai begitu seseorang
telah menemukan dirinya sendiri
Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Hidup ini adalah sebuah cerita. Cerita dimana Anda lah yang menjadi penulisnya. Sebuah film dimana Anda lah yang menjadi sutradaranya. Apa yang membedakan antara cerita yang satu dan film yang satu dengan yang lainnya? Pilihan-pilihan yang Anda ambil lah yang menjadi pembedanya.
Melalui pengalaman hidup maka seseorang dapat berkembang. Jiwanya dapat menjadi lebih dewasa. Pengalaman hidup selain langsung, dapat dirasakan juga dengan membaca cerita. Diharapkan dengan membaca cerita-cerita pada Blog ini maka seseorang dapat mengambil hikmah yang ada dan menerapkannya dalam kehidupan pribadi masing-masing. semoga dapat bermanfaat.
Kisah ini merupakan kisah inspiratif yang diambil dari buku "The Ultimate Gift" yang ditulis oleh Jim Stovall. Buku ini menceritakan kisah nyata tentang seorang pengacara tua bernama Theodore J. Hamilton yang dimintai tolong oleh temannya yang sudah meninggal bernama Red Stevens untuk merubah perilaku ahli warisnya supaya lebih pantas untuk menerima warisan Red Stevens, yaitu cicit termudanya Jason Stevens. Melalui serangkaian cerita yang menginspirasikan ini, maka pembaca diajak untuk mengalami apa yang dialami oleh Jason Stevens melalui sudut pandang orang pertama, dan diajak dalam sebuah perjalanan yang mengharukan sekaligus bermakna.
#1 -=[ PADA AWALNYA ]=-
Hari itu adalah tahun kelima puluh tigaku berpraktik hukum, dan tahun kedelapan puluh hidupku di bumi ini, ketika aku harus melakukan berbagai perjalanan penuh tantangan yang mengubah hidupku untuk selamanya.
Aku tengah duduk di belakang meja mahoniku yang besar dan berbentuk antik di kantor sudut, lantai teratas gedung pencakar langit yang menjulang di kawasan kota Boston yang paling terkenal. Di serambi berlantai marmernya, pelat kuningan antik di pintu luar bertuliskan Hamilton, Hamilton, & Hamilton. Sekadar untuk diketahui, akulah Hamilton pertama - Theodore J. Hamilton, tepatnya. Putraku dan cucuku adalah kedua Hamilton lainnya dalam firma ini.
Aku tidak akan mengatakan kalau kami merupakan firma hukum yang paling bergengsi di Boston karena itu tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Tapi, jika orang lain yang berkata seperti itu aku tidak akan bersusah payah untuk tidak menyetujuinya.
Sementara aku tengah menikmati suasana kantorku yang antik tapi mewah, aku berpikir sudah seberapa jauh yang telah aku capai sejak hari-hariku yang susah sekolah di sekolah hukum. Aku senang menatap dinding ketenaranku, dimana kugantungkan foto-foto diriku bersama kelima presiden terakhir Amerika Serikat dan sejumlah orang penting lainnya.
Kulirik pemandangan yang kukenali berupa rak dari lantai ke langit-langit penuh buku bersampul kulit, karpet oriental yang tebal, dan perabotan kulit klasik, semuanya usianya lebih tua daripada diriku. Kenikmatan yang kurasakan saat berada di lingkungan yang kukenali terganggu sewaktu telepon di mejaku berdering. Kudengar suara Margaret Hastings yang bisa diandalkan dan kukenali. "Pak", katanya, "bolehkah aku masuk dan berbicara denganmu?"
Karena kami telah bekerja sama lebih dari empat puluh tahun, aku tahu kalau nada seperti itu hanya untuk situasi yang paling serius dan muram
"Masuklah, silahkan", jawabku seketika.
Nona Hastings segera masuk, menutup pintu di belakangnya dan duduk di seberang meja di hapanku. Ia tidak membawa kalendernya, surat menyuratnya, atau dokumen apa pun. Aku tengah berusaha mengingat terakhir kali Margaret memasuki ruangan pribadiku tanpa membawa apa pun, sewaktu ia mengatakan tanpa pembukaan atau menunda-menunda, "Tuan Hamilton, Red Stevens baru saja meninggal".
Kalau kau sudah berusia delapan pluhan, kau semakin terbiasa bahwa seseorang bisa kehilangan teman dan keluarga. Tapi, beberapa kehilangan itu menghantammu lebih keras daripada yang lainnya. Yang satu ini benar-benar mengguncang batinku. Di tengah-tengah semua emosi dan kenangan yang membanjiriku, aku sadar kalau aku harus melakukan apa yang diharapkan Red untuk kulakukan, yang sederhananya adalah melakukan pekerjaanku.
Aku beralih kembali menjadi pengacara dan berkata kepada Nona Hastings, "kita harus menghubungi semua anggota keluarga, berbagai dewan perusahaan dan kepentingan bisnis, dan bersiap-siap untuk mengendalikan sirkus media yang akan dimulai sebentar lagi."
Nona Hastings bangkit berdiri dan berkata, "akan kutangani semuanya." Ia bergegas berjalan ke pintu dan lalu ragu-ragu sejenak. Sesudah kebisuan sesaat yang tidak mengenakkan, jeda sesaat yang kemudian menyadarkanku Margaret Hastings dan aku menyebrangi garis pembatas yang memisahkan antara yang professional dan pribadi, ia berkata dengan suara pelan, "Tuan Hamilton, aku turut bersedih atas kehilanganmu".
Miss Hastings menutup pintu dan meninggalkanku seorang diri yang tenggelam dalam pikiranku.
(bersambung........)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar